Written on 00:05 by Novi Tata

Sewaktu kecil dulu, saya dan teman-teman lainnya sering ditanya sama bu guru. Anak-anak kalau besar mau jadi apa? Tanpa mikir panjang, semua punya jawaban masing-masing dan nggak ragu-ragu buat menyampaikan cita-cita saat itu. Ada yang mau jadi dokter, jadi pilot, jadi guru, dsb. Pokoknya ga ada keragu-raguan sama sekali atas jawaban saat itu.
Seiring bertambahnya usia yang menurut banyak orang adalah indikator bahwa kita bertambah dewasa, banyak diantara kita yang malah semakin bingung mau jadi apa. Kebingungan itu bisa disebabkan oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal misalnya ketidak percayaan diri kalau kita mampu untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Faktor eksternal misalnya dorongan dari orang-orang sekitar yang menginginkan seorang anak untuk menjadi A,B,C. Padahal si anak ingin menjadi X. Saya cukup sering menemukan kasus-kasus seperti itu. Dimana seorang anak di tengah kebingungannya menentukan jurusan pada saat perkuliahan, lantas membuat orang tua memaksakan keinginannya. Setelah berhasil masuk ke jurusan yang diinginkan orang tua, di tengah perjalanan baru merasakan bahwa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minat dan kemampuannya. Maka jadilah si anak pindah dari satu universitas ke universitas lain. Lalu kapan lulusnya?? Saya yakin orang tua mana pun ingin anaknya sukses. Orang tua manapun ingin anaknya bahagia. Tak ada orang tua yang menginginkan keburukan untuk anaknya, 1000 persen tak ada.
Di tulisan kecil saya yang ga ada apa-apanya ini, saya mau bilang sama para orang tua, juga calon orang tua. Kami juga manusia yang punya segudang keinginan yang ingin direalisasikan. Kami ingin didengarkan. Kami ingin dimengerti. Biarkan kami mengembangkan bakat sesuai dengan passion kami. Karena kami tau, melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hati nurani hasilnya akan tidak maksimal.
Posted in
kotrat kotret,
opini
|
Written on 09:36 by Novi Tata
Sebenarnya saya punya niat untuk menghasilkan paling tidak satu tulisan dalam satu hari. Ah tapi sayangnya saya agak moody, jadi saat mood saya lagi jelek, gak akan bisa nulis apa-apa. Seperti kemarin, tiba-tiba perasaan saya jadi sangat ga enak, mau ngapain juga terasa ga enak, apalagi untuk menulis. Akar permasalahannya sebenarnya sepele, cuma karena SMS yang tak terbalas, hehe. Tapi entah kenapa efeknya begitu besar, hingga menghilangkan semangat beraktifitas bahkan semangat makan. Well, saya akui itu salah satu sifat buruk yang harus saya buang sejauh-jauhnya.
Beberapa hari yang lalu saya tersasar ke blog seorang mahasiswa fikom UGM. Ulasannya mengenai suatu hal cukup komprehensif, tulisan-tulisannya enak dibaca. Salah satunya tentang analogi antara sepatu dan laki-laki. Saya setuju kalau memilih sepatu gak jauh beda sama memilih pasangan. Ga semudah membeli cabai misalnya. Sepatu itu barang yang meiliki dua sisi penting dalam hal pemilihannya. Sepatu yang keren belum tentu nyaman dipakai, begitupun sepatu yang nyaman, ga selamanya selalu keren. Beruntunglah bagi orang-orang yang mendapatkan sepatu yang nyaman, juga keren. Nah sepatu keren itu bisa dianalogikan dnegan laki-laki tampan, ganteng, keren. Sedangkan sepatu nyaman, dianalogikan dengan laki-laki yang mampu memberi kita kenyamanan dengan sikap dan tingkah lakunya.
Semuanya kembali ke diri masing-masing. Mau sepatu yang seperti apa. Meskipun setiap keinginan tidak dapat selalu terpenuhi. Minimal kita punya harapan, meskipun hasilnya ga sebagus yang diharapkan. Paling tidak ya mendekati harapan. Buat apa pula sepatu yang good look, tapi 'menyiksa' pemakainya. Sehabis dipakai membuat kaki lecet-lecet, pegal, dan keluhan lainnya. Lebih baik sepatu yang nyaman dan pantas.Memilih sepatu memang ga selamanya sama dengan memilih pasangan karena kamu dapat membuang sepatu pilihanmu itu kapanpun saat kamu tidak lagi menyukainya. Sedangkan pasangan? Tidak!!
Posted in
life,
opini
|
Written on 08:13 by Novi Tata
Program saving saya belum berhasil. Tapi saya terus akan mencobanya. Kemarin, hari Minggu, niatnya cuma mau anter sepupu kecil potong rambut. Eeeh emang dasarnya wanita ya, selalu ingin ini ingin itu, laper mata deh pokonya. Hua padahal dengan sekuat hati saya udah mencoba untuk ga tertarik sama berbagai treatment yang ditawarkan sama salon. Facial, masker rambut, creambath,.. dan akhirnya saya memutuskan untuk facial. Padahal, ga ada anggaran untuk facial, untuk ke salon. Tuhan, maafin sayaaa.. belum bisa konsisten sama anggaran yang sama buat, sama komitmen saya.
Ternyata butuh komitmen yang kuat buat ga tertarik sama hal-hal yang ga perlu. Kalo perlu pake kacamata kuda sekalian, hehe. Apalagi yang namanya cuci mata di mall, huh itu sumber utama pengurasan kantong. Huhu saya akui memang saya suka gelap mata kalau sedang memegang uang berlebih. Suka mikir ingin ini ingin itu. Padahal mesti tau yang mana yang butuh dan mana yang hanya sekedar ingin.
Yang saya tahu, seberapa pun besar penghasilan yang dimiliki, akan tetap tidak cukup jika kita terus-menerus mengikuti keinginan yang tak ada habisnya. Bukankah orang yang terkuat adalah orang yang mampu menahan hawa nafsunya? termasuk nafsu/keinginan untuk belanja hal-hal yang memang tidak perlu.
Lalu bagaimana jika seluruh hal-hal yang dibutuhkan sudah tercukupi? Ya bolehlah sedikit memanjakan diri dengan hal-hal yang diinginkan. Saya bilang, sedikit lho. Nggak boleh gelap mata membelikan seluruh uang yang ada di rekening kita.
Pada intinya, kita perlu menetapkan skala prioritas. Skala prioritas berisi segala sesuatu kebutuhan kita dan diurutkan berdasarkan tingkat kepentingannya dan 'kemendesakannya'. Sesuatu yang penting dan mendesak, sesuatu yang penting tapi tidak mendesak, sesuatu yang tidak penting dan mendesak, dan sesuatu yang tidak penting dan tidak mendesak. Saat mendapatkan bonus tambahan, bukan berarti untuk berhura-hura, shoping sana-sini, dan akhirnya penyesalan lah di ujungnya. Semoga saya ga hanya bisa bicara dan berkoar-koar saja melalui blog ini. Semoga saya bisa merealisasikan pemikiran-pemikiran yang ada di benak saya ini. Semoga.
Posted in
motivasi,
opini
|