Di Balik Kepopuleran Kata 'Galau'

Written on 01:59 by Novi Tata


Teman-temin, gambar di atas adalah hasil utak-atik olah digital menggunakan GIMP. Keliatan banget ya kalau masih newbie. Yang penting keinginan saya untuk belajar cukup kuat (Ohya?). Yaa.. Blog saya ini kan emang tempat curhat-curhat gak jelas, tempat melepaskan unek-unek, tempat menyalurkan hobi saya. Jadi sah-sah aja ya kalau saya majang foto hasil olah digital tapi masih memprihatinkan banget kayak gitu, hehehe. Di tengah kegalauan yang semakin hari semakin menjadi-jadi (ceilah), lebih baik kan saya mencari kegiatan yang bermanfaat. Oia, ngomongin masalah galau, saya jadi ingat salah satu status facebook adik tingkat saya. Tadi pagi saya udah sempet PrintScreen buat kasih lihat image-nya. Nama saya sembunyikan untuk menjaga privasinya.


Serasa ditampar bolak-balik baca status itu. Ngenaa banget. Saya juga ga tau pasti apa definisi galau yang sebenarnya. Setelah melakukan beberapa survei kecil, saya menyimpulkan bahwa galau itu adalah suatu keadaan dimana kita memikirkan suatu hal tetapi sulit untuk membaginya kepada orang lain. Keadaan seperti itu menyebabkan kita merasa tidak tenang, risau, resah, gelisah, dan sebagainya. 

Kembali lagi ke status di atas, saya merasakan benar bahwa saat-saat galau bagi saya adalah ketika saya merasa jauh dari Tuhan. Ibadah menjadi tidak khusyuk lagi, makan tak enak, tidur tak nyenyak. So, intinya obat galau itu caranya dengan semakin mendekatkan diri sama Allah.

Oia teman-temin, kemarin mampir juga ke blog tentang kegalauan. Ada satu artikel yang isinya kira-kira begini, bagaimana kita bisa terus-menerus larut dalam kegalauan sementara orang lain sedang sibuk memikirkan dan berusaha untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Waktu kita kan emang sama ya semuanya. Kalau kita hanya bersibuk ria dengan kegalauan, sementara orang lain sedang berbenah diri untuk jadi lebih baik, jelas kita akan tertinggal. So guys, wake up dari kegalauanmu.. Jangan jadikan jejaring sosial sebagai tembok ratapan yang semua orang bisa membacanya.

GIMP dan Inkscape

Written on 00:53 by Novi Tata

Pfiuuh, seharian ini menggeje dengan mengutak-atik mainan baru. Mainan baru? He iya ini dapet mainan baru yang bisa ngutai atik foto, tapi bukan photoshop. Ini free license, namanya GIMP. Dan ada lagi satu temannya yang juga free license yang namanya Inkscape. Nah kata orang-orang yang udah pada ahli, inkscape ini fungsinya mirip-mirip sama corel draw. Tapi ya namanya free license pasti ada fitur-fitur yang tidak tersedia seperti yang disediakan di corel. Untuk pemula yang sangat abal-abal seperti saya cukuplah. Udah ga sabar nih mau kasih unjuk hasil karya pertama saya, haha.


Saya bukannya suka sama warna hitam putih. Cuma saya memang belum nemuin gimana cara mewarnai gambar, hiks. Kalau agan-aganwati tau, boleh share dunk. Kalau mau buat kaligrafi juga bisa pake inkscape. Oia daritadi saya ngomong tentang free license mulu tanpa ngejelasin apa itu free license. Jadi, software free licence itu bisa digunain oleh siapa aja, dari bapak-bapak, anak-anak, ibu-ibu, mahasiswa, bahkan balita pun boleh asalkan udah bisa mengoperasikan komputer. Gak perlu membayar lisensi produk. Selain itu, software tersebut boleh dikembangkan kalau memang mau mengembangkannya. Istilah kerennya itu, General Public License (GPL).

Kalo ada yang free license, untuk apa beli produk yang berbayar tapi bajakan? Bukannya itu termasuk mencuri ya..? Kalau kita belajar tapi sarana dan prasarananya kurang jelas keabsahan pemakaiannya, terus gimana dong sama ilmunya nanti? Berkah ga ya? Mulai dari diri sendiri, say no to bajakan... Saya yang masih sangat awam di dunia per-software-an udah ngomong macem-macem ni. Haduuh semoga bukan sok tau ya. Jadi, please correct me if i wrong yaa.. cmiiw.

Mau Jadi Apa Saya?

Written on 00:05 by Novi Tata




Sewaktu kecil dulu, saya dan teman-teman lainnya sering ditanya sama bu guru. Anak-anak kalau besar mau jadi apa? Tanpa mikir panjang, semua punya jawaban masing-masing dan nggak ragu-ragu buat menyampaikan cita-cita saat itu. Ada yang mau jadi dokter, jadi pilot, jadi guru, dsb. Pokoknya ga ada keragu-raguan sama sekali atas jawaban saat itu.

Seiring bertambahnya usia yang menurut banyak orang adalah indikator bahwa kita bertambah dewasa, banyak diantara kita yang malah semakin bingung mau jadi apa. Kebingungan itu bisa disebabkan oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal misalnya ketidak percayaan diri kalau kita mampu untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Faktor eksternal misalnya dorongan dari orang-orang sekitar yang menginginkan seorang anak untuk menjadi A,B,C. Padahal si anak ingin menjadi X. Saya cukup sering menemukan kasus-kasus seperti itu. Dimana seorang anak di tengah kebingungannya menentukan jurusan pada saat perkuliahan, lantas membuat orang tua memaksakan keinginannya. Setelah berhasil masuk ke jurusan yang diinginkan orang tua, di tengah perjalanan baru merasakan bahwa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minat dan kemampuannya. Maka jadilah si anak pindah dari satu universitas ke universitas lain. Lalu kapan lulusnya?? Saya yakin orang tua mana pun ingin anaknya sukses. Orang tua manapun ingin anaknya bahagia. Tak ada orang tua yang menginginkan keburukan untuk anaknya, 1000 persen tak ada.

Di tulisan kecil saya yang ga ada apa-apanya ini, saya mau bilang sama para orang tua, juga calon orang tua. Kami juga manusia yang punya segudang keinginan yang ingin direalisasikan. Kami ingin didengarkan. Kami ingin dimengerti. Biarkan kami mengembangkan bakat sesuai dengan passion kami. Karena kami tau, melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hati nurani hasilnya akan tidak maksimal.

Bolang VS Ngik-ngik

Written on 01:46 by Novi Tata

Belum lengkap rasanya kalau belum cerita-cerita tentang hal-hal yang gue alami beberapa hari ini di blog ini. Beberapa minggu ini gue jadi penunggu kontrakan. Memang begitu nasibnya kalau sekontrakan sama adik-adik kelas semua. Ada yang lagi PKL (Praktek Kerja Lapangan), biasanya di kampus lain disebut KKL (Kuliah Kerja Lapangan). Ada juga yang nyebut KKN, bukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme ya, tapi Kuliah Kerja Nyata. Whatever lah mau disebut apa. Tahun ini kampus ngadain PKL  ke Jogjakarta. PKL kali ini terbilang jauh kalau di banding PKL-nya kampus lain. Jakarta-Jogja lumayan jauh lah ya, kagak nyampe kalo jalan kaki, hehehe. Tapi tapi tapi PKL kali ini relatif lebih dekat kalau dibandingin sama PKL tahun-tahun sebelumnya. PKL sebelumnya ada yang ke Bali bahkan sampai ke Palembang juga (Gak kebalik? Bukannya jauhan Bali..). Koq jadi ngeributin jarak, PKL kan bukan ajang untuk jauh-jauhan.

Adik-adik yang lain lagi pulang kampung, kangen-kangenan dulu sama orang tua masing-masing sebelum sibuk sama skripsi. Masa-masa nyelesain skripsi tu bener-bener butuh konsistensi yang kuat, halah. Meskipun ngantuk banget harus tetep terjaga buat nyelesein deadline kalo esoknya harus konsultasi ke dosen pembimbing. Butuh mental yang ekstra kalau hasil kerja semalaman malah dicerca (haha pengalaman..), fisik yang sehat dan butuh untuk mengesampingkan hal-hal yang kita sukai untuk sementara waktu. Skripsi itu harusnya ajang untuk membuktikan diri terhadap ilmu-ilmu yang udah dipelajari selama 7 semester. Koq harusnya? Iya soalnya dulu motivasi besar saya menyelesaikan skripsi adalah untuk lulus saja.. ckckck. Jangan dicontoh ya :D

Hari Sabtu kemarin seperti biasa aku nyuci baju-baju selama seminggu. Pegel. Tapi seneng akhirnya bersih juga baju-bajuku. Pas mau jemur baju di lantai atas, ada seekor kucing yang kupikir sedang tidur. Semakin aku dekati, ternyata dia udah nggak bernafas lagi. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Enggak tau sejak kapan kucing itu ada di balkon bawah jemuran. Sebab matinya kenapa aku juga ga tau. Aku ga hafal sama kucing-kucing yang suka bersliweran di sekitar kontrakan. Yang jelas, satu atau dua ekor lalat udah mulai berdatangan. Ukurannya juga ga bisa dibilang kecil. Guede malah. Aku panik ga tau apa yang harus aku lakukan saat itu (Bahasanyaa :p). Aku gaak berani buat ambil bangkai kucing itu. Mau manggil mang ocha, tapi udah keburu sore. Akhirnya aku putuskan untuk pulang kerumah dulu.

Dirumah aku ceritain itu sama mama, eh si mama jadi panik. Koq ga dibuang sih? Nanti kalau sudah hancur membusuk gimana? Blablabla.. Hari Minggu aku pulang lagi ke kontrakan dengan masih bingung mau diapain bangkai kucingnya. Eh si ngik-ngik temen SMA-ku ngajak jalan, ya lupa lagi deh sama si kucing. Ngik-ngik katanya lagi suntuk dirumah, jadi dia ngajak kemana gitu. Karena waktuku emang lagi luang, yaudah kita ke Islamic Book Fair di Istora Senayan. Kalo weekend pengunjungnya berjubel. Kalau hari kerja pasti lebih sepi. Nyampe sana udah jam 3 sore, kita muter sebentar terus sholat Asar. Ngik-ngik bingung mau beli novel yang mana karena memang bagus-bagus semuanya. Aku si ga begitu tertarik sama novel, aku lebih suka sama buku-buku motivasi. Nah aku liat buku dengan cover merah. Judulnya '6 Hal yang akan Membuat Anda Menderita'.Kayak di bawah ini cover bukunya.

 
Source : Google

Harga normalnya 55000 rupiah, tapi di pameran itu aku bisa bawa pulang dengan harga 15 ribu aja. Murah ya.. Tebalnya sekitar 438 halaman. Lumayan buat temen pengantar tidur, :p 

Sekitar jam 5 sore kita putuskan untuk udahan hunting bukunya. Eh si ngik-ngik laper dan ga mau makan di pinggir jalan. Gue si oke-oke aja asalkan bersih. Ngik-ngik maunya di franchise ayam goreng. Setau gue di daerah senayan itu adanya sensi (Senayan City), yaudah kita kesana. eh ternyata yang paling deket dari GBK (Gelora Bung Karno) itu FX Plaza bukan Sensi. Beneran deh disana kita kaya orang ilang, haha. Jadi inget peristiwa 5 tahun yang lalu pas kita ga jadi makan di salah satu gerai bakso karena harganya ga sama dengan promosi yang ditawarkan. Daan ternyata franchise ayam goreng yang dicari gak ada di FX. Kita akhirnya pulang dengan tangan hampa dan perut mengeroncong,, Ngik-ngik, maafin ane yaa yang kagak bisa jadi tourguide yang baik >.<

Kemarin itu pokonya seneng seharian sama ngik-ngik. Walau pun pas pulang, bis 921 jurusan Melayu-Blok M ga datang juga setelah sekian lama aku menunggu, halah. Satu setengah jam nunggu ga ada juga yang lewat. Pasrah deh akhirnya harus naik busway. Untungnya ga begitu penuh. Tapi tetep aja kaki sama punggung udah ga karuan rasanya. Kalau aja buatan manusia, pasti udah patah.. hehehe. Sampe kontrakan udah ga bisa ngapa-ngapain lagi dan ketiduran (atau sengaja ya) di depan tivi sampe pagi. 

How was a wonderfull day is it. ^^

Ambigram

Written on 00:18 by Novi Tata


Tau yang namanya ambigram? Aku baru tau nih, ckck, kemana aja ya selama ini. Dari hasil browsing, ambigram itu deretan huruf yang membentuk sebuah kata. Nah kata tersebut kalau dirotasi sejauh 180 derajat masih akan membentuk kata yang sama. Contohnya seperti gambar di atas yang merupakan ambigram nama saya. Novi Utami. Kalau dirotasi juga akan tetap sama.Unik ya :) 

Nah gimana cara buatnya? Kalau gambar di atas itu saya dapat dari web ini. Layanan di web tersebut sebenarnya berbayar. Tapi gambar yang di atas itu saya crop pake paint, ^^. Termasuk mencuri gak ya? Yang penting ga ada tujuan untuk mengkomersilkan,.. membela diri bangeet.

Semangat si Engkong

Written on 23:11 by Novi Tata




Tak terasa udah bulan Maret. Emm berarti magangnya udah memasuki bulan ke lima. Niatku untuk posting one day one post belum berhasil. Entah kenapa kalau lagi semangat nulis, bahkan bisa posting dua tulisan dalam satu hari yang sama. Tapi kalau lagi mampet (kayak hidung ajaaa mampet), berminggu-minggu ga ada tulisan yang bisa dihasilkan. Mungkin Anda berpikiran bahwa saya kurang membaca? Enggak juga, banyak artikel dan tulisan teman yang sudah saya baca, tapi tetap saja tak ada ide untuk menulis.Di postingan kali ini, saya mau cerita pengalaman saya ngajar Bela senin malam kemarin.

Bela itu awalnya murid ulfa, adek sekontrakanku. Berhubung si ulfa lagi PKL (Praktek Kerja Lapangan) ke daerah Gunung Kidul, Jogjakarta sana, sayalah yang menggantikannya untuk mengajar Bela. Dia murid kelas 3 SMA. Awalnya pas ditawari untuk ngajar anak kelas 3 SMA saya ragu, hehe sadar kemampuan. Soalnya banyak banget materi SMA yang sudah lupa (atau sengaja saya lupakan ya? :p). Ternyata Bela itu anak anak IPS, yasudahlah saya terima tawaran itu. Paling gak, ilmu matematika dasar saya masih ingat, yang paling penting ga ada kimia sama fisikanya, hahaaha. Dan setelah saya datang kerumahnya, usut punya usut ternyata yang belajar bergantian antara Bela dan adiknya, Fadil. Fadil masih kelas 4 SD. Mungkin bagi kebanyakan orang berpikir lebih mudah ngajar anak SD. Ternyata ga seperti itu lho. Ngajar anak SD itu butuh ekstra kesabaran. Saat ia sudah males-malesan dengerin penjelasan kita, saat itulah tantangannya.

Pas udah mau selesai ngajar, di luar hujan deras dengan petir yang menyambar-nyambar (lebay.com). Bela sampai minta ditemani sama neneknya, ternyata dia takut banget sama petir. Kemudian kami ngobrol-ngobrol ringan menunggu hujan reda sambil minum teh. Bela bercerita panjang lebar tentang perjalanannya ke Singapura beberapa waktu yang lalu padahal kita baru beberapa hari kenal. Dia memang ektrovert anaknya, berbeda banget sama saya yang hanya bisa jadi pendengar yang baik dengan menganggukkan kepala, bertanya pada bagian-bagian yang saya kurang mengerti dan memasang muka serius.. hehehehe. Untunglah ceritanya memang seru, sama sekali tidak membosankan. Sebenarnya masih ingin mendengarkan ceritanya tapi udah jam setengah sepuluh malam, jadi saya pamit pulang ditemani rintik-rintik hujan.. #tsaaah.

Dengan diantar mbaknya Bela sampe ke ujung pintu, hehe emang pintu ada ujungnya ya.. saya melangkahkan kaki untuk pulang ke kontrakan. Kontrakan saya agak jauh dari rumah Bela. Untuk naik angkutan umum juga harus berjalan agak jauh. Jadi saya putuskan untuk naik ojek aja. Emm, sebenernya kalau ga terpaksa saya enggan naik ojek. Saya melihat ada dua ojek di seberang jalan. Salah satunya menghampiri saya. Usia tukang ojek itu saya perkirakan sekitar 60 tahunan. Dengan suara yang setengah berteriak, dia menawarkan mantel. "Ini baru aja dicuci neng, jangan takut", masih dengan nada agak tinggi supaya suaranya terdengar oleh saya. Saya bilang, "ke SPBU Otista ya Pak". Tampaknya bapak tua itu bingung. "Engkong ga tau neng arahnya kemana, kasih tau engkong ya nanti.". Bapak tua itu mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan rendah, dia bilang khawatir terpeleset karena jalanannya licin.

Dalam gerimis seperti itu, si engkong masih bersemangat untuk mencari nafkah. Sementara saya kalau hujan sedikit aja sudah malas untuk keluar rumah. Eh tapi itu saya juga lagi cari nafkah ya, :p.. hehee. Tetep aja beda saya sama si engkong semangatnya. Badannya kan udah ga setegap dulu lagi. Pasti lebih mudah sakit-sakitan. Sesampainya di SPBU Otista, saya mengambil uang untuk membayar jasa ojek engkong. Saya mikir lagi, pasti lebih ribet mengendarai motor dalam kondisi hujan gerimis. Lebih dingin juga, pokoknya usahanya lebih besar daripada kalau nggak hujan. Akhirnya saya melebihkan sedikit ongkosnya dari ongkos yang normal. Enggak disangka, reaksi si engkong membuat saya takjub. "Aduh engkong makasih banget ya neng", ucapnya. Saya ga nyangka, dengan uang beberapa ribu saja engkong itu sudah berterimakasih yang seperti itu. Bagaimana kalau dapat yang lebih besar lagi ya. Itu cermin lagi untuk saya, selama ini ketika mendapat uang rasanya memang senang. Tetapi sering lupa berterimakasih sama yang memberi rezeki. Bahkan jeleknya, saya mikir itu kan memang hak saya. Coba pikir deh, ongkos itu kan memang haknya engkong ya? Tapi dia tetep bilang terimakasih, tulus lagi bilangnya.

Sejak hari itu, saya mendapat pelajaran bahwa bekerja bukan hanya sekadar untuk mencari materi, tapi untuk mencari pengalaman-pengalaman berharga. Ketemu sama engkong tu sesuatu yang sangat berharga menurut saya,, hihi. Bekerja juga harus sepenuh hati, bersyukur atas apapun yang diterima, sekecil apapun. Kalau untuk hal-hal yang kecil aja kita ga bisa bersyukur, bagaimana kalau diberi yang lebih banyak lagi?