Written on 23:19 by Novi Tata
Hahh.. pa Fir dah kasih tanda tangann, aaaa ini so sweet. Alhamdulillah ya semua terasa begitu dimudahkan oleh Allah. Aku yakin, ini semua berkat do'a ibu. Satu lagi ni yang belum, minta tanda tangan ke pak Anang. Sekarang ni beliau ada di bawah sana sedang menjadi juri untuk acara persembahan HIMADA (Himpunan Mahasiswa Daerah) di kampus ini. Kemarin sih beliau bilang, mungkin acaranya kan selesai sekitar jam 1. Huhu tapi ini kan udah jam 1 lebih. Bagi kami mahasiswa/mahasiswi tingkat akhir, menunggu itu jadi hal yang sangat biasa.
Posted in
kampus
|
Written on 11:15 by Novi Tata
Draft skripsi masih perlu untuk diperiksa nih, he tapi lagi semangat untuk nulis. Sore tadi tepatnya habis isya saya mampir ke kosan temen. Sharing-sharing tentang perjuangan skripsi kita yang terasa rumit namun banyak hal dan kisah yang menarik untuk diceritakan. Mulai dari hal-hal lucu dan menyenangkan, hingga hal-hal yang menimbulkan derai air mata.. Mulai dari seminarku yang ampun-ampunan... sampai sidang juga akhirnya.
Mungkin Anda yang membaca tulisan ini menilai saya begitu lebay, halah wong cuma sidang. Eiiitts tunggu tunggu.. Awalnya saya masuk jurusan ini (Komputasi Statistik) bukan karena niat dan kemauan pribadi. Saya diarahkan oleh pihak jurusan. Tahun-tahun awal di jurusan ini memang cukup terasa berat buat saya yang awam sama dunia perkomputeran. Jadilah saya mahasiswi yang kerjaannya cuma datang ke kampus, dengerin dosen bicara, lalu pulang ke kosan. Hmm saya merasa betapa sia-sia hidup saya kala itu. Terlebih bayangan kampus yang saya idamkan selalu menggelayut di pikiran. Andai setiap hari saya dapat bermain dengan rumus-rumus Matematika, mengintegralkan dan mendifferensialkannya. Uh. Begitu kira-kira gumamku kala itu.
Ternyata pikiran-pikiran saya itu salah besar. Justru disinilah tempat terbaik buat saya. Ketakutan-ketakutan saya mengenai pemrograman dapat teratasi dengan baik. Allah memang punya rencana, dan saya yakin rencana-Nya begitu indah. Lebih indah daripada rencana-rencana yang manusia buat. Bagaimana tidak, skripsi saya ini buktinya.
Masa pencarian topik skripsi
Mencari topik penelitian ternyata tak semudah yang dibayangkan. Saat teman-teman lain sudah memperoleh topik skripsi, saya masih terus mondar-mandir BPS (Badan Pusat Statistik). BPS itu instansi dimana saya akan mengabdi selepas lulus nanti jika tak ada aral melintang. Kembali ke cari topik, kira-kira empat atau lima proposal penelitian saya ajukan ke jurusan hingga akhirnya diterima. Memang sih sebelumnya sudah ada judul yang disetujui tapi justru saya mengundurkan diri karena kurang 'srek'. Berkali-kali ke BPS mendatangi subdirektorat2 yang ada disana, menanyakan sistem kerja mereka. Mengidentifikasi apakah ada pekerjaan manual yang bisa diotomatisasi. Huhh lelah memang. Bertemu dengan orang-orang yang paling ramah hingga yang paling galak.
Singkat kata singkat cerita, hati ini menuntun kaki saya ke Gedung 4 Lantai 5 dari lift ke arah kiri. Dengan clingak-clinguk gag jelas tapi sok pede, saya masuk ruangan yang di depannya terpampang Subdirektorat Statistik Kehutanan. Hutan? Pas banget bu Kasubditnya ada, perempuan cantik separuh baya yang masih terlihat ayu. Aku pun mulai tanya-tanya layaknya pengembang sistem yang udah punya jam terbang, hhaha. Alhamdulillah ibunya percaya aja sama saya, padahal waktu itu saya merasa abstraaak banget sama apa yang saya bicarakan. Pokonya ga kebayang deh saya mau buat sistem macam apa. Bahasa pemrograman pun baru aja mau belajar.. Huaa.. Untung aja ibunya ga bisa dengar hatiku yang membatin ga karuan saat itu.
Satwaliar, itu nama survei yang ada disana. Kenapa namanya seekstrem itu saya juga tak tau. Bu kasubdit kemudian memanggil pria setengah baya yang ramah dan sangat baik. Pak Riko namanya. Sungguh welcome banget. Beliau langsung antusias sama apa yang aku tawarkan utuk survei satwaliar. Padahal, lagi-lagi itu semua masih abstrak banget.
Hari-hari berikutnya saya konsultasinya sama pak Riko, dengan segala kesabarannya. Padahal saya sering datang tiba-tiba saat beliau sibuk sama pekerjaannya. Selalu saja beliau menyediakan waktu buat saya. Bahkan beberapa kali dipinjami buku, diberi buku pedoman, di print-kan. Saya banyak berhutang kebaikan sama beliau. Pertolongan Allah sungguh dekat, contohnya melalui pak Riko ini. Semoga Allah merahmatinya.
Masuk tahap koding, huaaa.. I was stressed. Benar-benar stres. Untunglah Handita, teman seangkatan yang pintar nan baik hati itu bersedia menolong. Ada Trias yang membantu membuat laporan. Mereka adalah bentuk pertolongan Allah. Dita Pertiwi yang telah menyokong secara finansial. Ulfah dengan printer, kemeja, dan jilbab putihnya. Monik dengan sumbangan kertasnya. And many more.
Seminarpun dan sidangpun telah usai.. dan satu yang dinanti -wisuda- Semoga
Posted in
kampus
|
Written on 11:09 by Novi Tata
Ya Allah, entah kenapa hari ini aku merasa tenang dan damai. Semua yang Engkau berikan memang yang terbaik. Apapun itu... meskipun saat menjalaninya terasa amat sulit. Alangkah beruntungnya saya, ditengah jutaan orang berebut untuk mendapatkan NIP (Nomor Induk Pegawai), sementara saya diberikan begitu banyak kemudahan. Di tengah mahalnya biaya pendidikan khususnya perguruan tinggi di negeri ini, saya justru diberikan kesempatan secara cuma-cuma untuk menimba ilmu di bangku perguruan tinggi.
Alangkah kufurnya saya, jika terus meratapi fisik yang terlahir sempurna, meskipun cantik adalah suatu keniscayaan... Di tengah jutaan orang yang dilahirkan secara kurang sempurna. Ditengah sulitnya perjuangan untuk lulus dari kampus biru ini, saya masih diberi banyaaak sekali pintu kemudahan. Saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa tanpa pertolongan-Nya.
Ya Allah, aku ingin ibuku sehat.. tolong beri aku kesempatan ya Allah untuk membahagiakannya. Ijinkan hamba menyaksikan senyum bahagianya di hari wisuda beberapa minggu yang akan datang. Biarkan senyum itu tersungging diwajahnya, air mata meleleh di pipinya serta rasa bangga bersemayam di dadanya. Ya Allah, aku mohon. Tak ada yang dapat saya berikan selain prestasi kecil itu. Tentu saja do'a tak akan lengkap tanpa adanya usaha. Seperti memupuki tanah yang tidak ditanami apapun.. Oke mari revisi dulu..
Posted in
kampus
|
Written on 14:34 by Novi Tata
Alhamdulillah ketemu lagi sama bulan Ramadhan,.. bulan yang setiap amal perbuatan akan diberi pahala yang berlipat ganda. Wah berarti pahala mengerjakan skripsi juga berlipat ganda donk, hahaha,.. semoga, biar lancar n lulus sidang ya Allah, aamiin.
Semangaat pii..
Posted in
kotrat kotret
|
Written on 11:02 by Novi Tata
Seminar, kata yang tidak asing bagi mahasiswa tingkat akhir sebagai prasyarat mengikuti sidang skripsi. Hari ini hari seminar saya. Jam 7 pagi saya sudah stand by di depan ruang jurusan karena sebelumnya sudah make an appointment sama dosem pembimbing. Tapi what a shock day is it,, di hari seminar yang notabene sudah mendekati hari sidang, beliau meminta saya untuk menambahkan fungsi baru dalam aplikasi yang saya bangun. Well, saya tau itu untuk perubahan yang lebih baik. Hah, mana saya dikatai stubborn,, heuu..
Teman curhat juga tak bisa hadir. Dia lebih memilih menghadiri seminar teman lainnya dengan alasan yang 'aneh'. Satu lagi teman yang saya rasa dekat, teman sepermainan kalau ada kelas kosong, dia juga tidak hadir tanpa alasan apapun. Ah banyak teman yang saya mengharap kehadirannya namun nyatanya tak menampakkan batang hidungnya sekalipun. Huh hari ini benar-benar saya lalui dengan miserable. Sangat miserable. Kalo saja bisa, saya ingin menghilang ke benua Antartika saat itu juga.Well, sebagai pelajaran untuk lebih bijaksana, saya terus mengademkan diri dengan berprasangka baik sama teman-teman saya itu. Pasti ada kegiatan lain yang dinilai lebih urgent, pasti. Ah saya merasa menjadi orang tersisihkan, marjinal atau apalah sebutan lainnya. But, the life must go on.. chayoo :)
Posted in
kampus
|
Written on 11:59 by Novi Tata
Laju perkembangan teknologi semakin tak dapat dihentikan. Jarak ribuan kilometer kini sudah bukan menjadi masalah lagi untuk tetap berkomunikasi. Sewaktu saya SD, saya ingat betul betapa repotnya saat kita akan berkirim kabar dengan sanak saudara yang terpisah jarak. First, we have to go to the post office, then we've to buy a stamp , envelope then put it into post box. Stelah itu apakah selesai? Belum, masih butuh waktu lagi agar surat yang dikirim sampai di tangan penerima. Betapa repotnya saat itu.
Sekarang? Mau bilang sesuatu sama pujaan hati yang ada di seberang sana, tinggal ambil handphone, pencet nomornya then bercakap-cakap atau bisa juga melalui SMS (Short Message Text). Telepon jarak jauh masih dirasa mahal? Internetlah solusinya. Internet merupakan teknologi yang tidak mengenal batasan wilayah. We can communicate with other people around the world. Saat kita ada disini dan seseorang ada di benua lain, bisa terus menjalin komunikasi dengan biaya yang relatif terjangkau. Salah satunya dengan jejaring sosial yang cukup banyak jumlahnya. Ada Facebook, Twitter, YM, Plurk, MySpace, AIM, dan masih banyak lagi.
Di jaman sekarang ini, bahkan ada orang yang tidak bisa 'hidup' tanpa kehidupan di dunia maya tersebut. Jadi seperti ketergantungan pada jejaring sosial yang sebenarya hanyalah sebuah tools. Tak salah memang berkecimpung di dunia maya, tapi kalau porsinya sudah melebihi waktu-waktu untuk melakukan pekerjaan utama, saya rasa sudah ada yang tidak benar.
Sebagai contoh, ada orang yang mengupdate statusnya yang bunyinya hanya "lapar..". Pertanyaannya apakah lantas lapar tersebut akan menghilang kalau dia update di facebook? Atau dengan segera saat itu juga ada orang baik yang mau mengantarkan makanan kepada si penulis status? Yang datang pasti hanya komentar-komentar yang tidak banyak membantu, apalagi komentar yang justru cenderung mengejek. Bagaimanapun tak bisa menyalahkan teknologi, karena sekali lagi ia hanya tools untuk mencapai tujuan tertentu. Yang menjadi masalah adalah bagaimana cara kita memperlakukannya. Kalau kita jadi ketergantungan terhadap jejaring sosial yang setiap menit mengecek apakah ada yang memberi komentar, apakah ada yang mengirim sesuatu ke wall, dan apakah apakah lainnya. Jika sudah demikian, kita perlu waspada. Ingat, kita adalah subjek, bukan objek teknologi. :)
|
Written on 11:17 by Novi Tata
Jum'at lalu tepat pertemuan/konsultasi ke sepuluh dengan dosen pembimbing. Itu artinya, saya sudah berhak untuk melakukan seminar skripsi saya. Hari itu, saya tentu saya merasa senang karena saya sudah mendapat lampu hijau untuk melakukan seminar, namun sekaligus sedih karena fungsi utama dari aplikasi yang saya kembangkan belum tuntas juga. Ini artinya, saya harus bekerja ekstra keras agar fungsi utama bisa saya demokan pada seminar nanti.
Besok, jadwal foto kelas untuk kelas kami yang bertempat di sebuah kafe di bilangan Sudirman. Tadi siang, saya mencari kostum yang akan dikenakan besok... Sebenarnya saya mencari pakaian berwarna biru muda, biru soft. Ternyata gak semudah yang saya bayangkan. Berkeling sana sini mencari yang cocok. Saya hampir putus asa. Untungnya di saat hampir putus asa mencari pakaian berwarna biru muda, saya menemukannya. Setelah didekati, saya agak ragu apakah itu benar-benar biru muda? Soalnya itu kan di dalam ruangan yang penuh dengan cahaya lampu. Saya beberapa kali menanyakan sama penjaga tokonya apakah baju itu benar-benar berwarna biru muda. Penjaga toko menyatakan iya saja, maklumlah kalau dia bilang tidak, nanti saya gag mau beli. Secara warna memang saya lebih sreg dengan toko yang sebelumnya, namun sayangnya saya tidak suka modelnya karena terlaku ketat jika saya kenakan. Akhirnya saya memilih untuk membeli baju di toko yang kedua yang warnanya saya masih agak ragu.
Ketika perjalanan pulang, saya terus mengintip warna baju yang saya beli dari plastik pembungkusnya, hanya untuk memastikan, ini memang biru muda. Ya ini biru muda. Namun sampai dirumah saya tanyakan sama ibu, menurut mama ini warna apa? mama: hijau, masak gak ngerti sama warna sih, haduuuh.. saya coba liat sekali lagi, oh iya ini lebih cenderung ke hijau. Saya masih penasaran warna apa ini hingga saya browsing tentang warna. Ternyata baju yang saya beli adalah warna hijau tosca, hijau yang agak kebiruan,.. Huaaa,, bagaimana ini besok. Apakah saya harus memeriksakan mata ke dokter? Ini memalukan.. :'(
Posted in
kotrat kotret
|
Written on 10:55 by Novi Tata
Kamis kemarin adalah hari yang cukup berbeda menurutku. Pertama-tama, di pagi hari memang ada jadwal untuk melakukan presentasi tugas Rekayasa Piranti Lunak yang sudah diberikan sejak seminggu yang lalu. Jadwal kampus kami masuk jam setengah delpan pagi untuk sesi pertama. Namun karena habis mengerjakan slide presentasi yang dikebut hanya semalaman, walhasil saya bangun kesiangan. Dan barulah sampai kelas sektar pukul delapan. Dengan berbagai pertimbangan, misalnya 'ah bapaknya juga suka telat', saya masuk kelas tanpa rasa berdosa. Sampai di kelas, ternyata bapaknya sudah stand by di posisinya. Tiga puluh menit, waktu yang lumayan lama untuk keterlambatan. Si Bowo dengan nada seperti bercanda, "Heh, kamu presentasi...". Ahh si Bowo kan emang suka bercanda dalam hatiku berkata demikian.
Pas lihat ke papan tuliiiiss,, right, itu nama saya ada diurutaan pertama. Lalu apa mereka belum mulai gara-gara menunggu penyaji pertama (saya) datang? Hah? Kalo benar demikian, saya merasa lebih bersalah. Well, dengan bekal hasil belajar semalaman suntuk saya siap jadi penyaji pertama. Saya menunggu bapaknya untuk mempersilakan. Tapi tiba-tiba bapaknya mengemasi laptop dan alat tulisnya kemudian bertanya kepada kami sekelas... "Kalian serius gag sih sama tugas akhir ini???" Nah lo ternyata bapaknya marah atas kelakuan kami. Kami tidak memenuhi kesepakatan awal bahwa seharusnya presentasi dari 15 kelompok dimulai sejak pukul setengah delapan pagi. Sedangkan banyak diantara kami yang datang sekitar pukul delapan. Bahkan ada teman saya yang tidak sempat absen karena absen sidik jarinya keburu sudah dimatikan sama bapaknya. Well, kami salah.
Sang ketua mengajak saya dan dua orang teman lainnya untuk menyusul bapaknya. Sampai di ruangan bapaknya, beliau terlihat sangat sangat sangat kecewa. Saat itu entah kenapa saya bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh bapaknya. Saya pun akan sangat kecewa bial saya jadi bapaknya. Di sana saya tak mampu berbicara sepatah katapun, karena saya mengakui bahwa saya salah. Saya tak mau mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahan yang telah saya lakukan. Beda sama ketua kelas, dia bilang kenapa kita banyak yang telat hadir ke kelas karena semalaman mengerjakan tugas tersebut hingga bangun kesiangan. Faktanya memang banyak diantara kita yang baru mengerjakan malam itu, termasuk juga saya. Namun saya rasa itu sangat gak tepat untuk dijadikan alasan. Tugas itu kan sudah diberikan jauh hari sebelumnya, satu minggu. Dalam satu minggu ada 7 hari, jika tugas dikerjakan selama satu malam saja, lantas bagaimana dengan yang 6 hari lainnya.
Saya sendiri memang mengakui bahwa itu penyakit saya juga, suka menunda tugas hingga deadline tiba. Akhirnya ya seperti itu berantakan jadinya. Oia bapak dosen yang aku ceritakan tadi memang lulusan Jepang yang notabene adalah negara yang disiplin. Beliau sekolah disana kalau ga alah sekitar sepuluh tahun.
Setelah peristiwa minta maaf dan membujuk bapaknya agar mau kembali ke kelas, presentasi pun bisa dimulai meskipun terbatas dengan waktu. Saya rasa bapaknya ingin memberi kita pelajaran yang sangat berharga, menurutku itu sangat sangat berharga. Alhamdulillah presentasiku cukup lancar. :D
Oia di sela-sela presentasi berjalan, aku melihat ada suatu fenomena yang cukup berbeda di kelas. Biasanya di kelas kami terbentuk kelompok-kelompok kecil yang lebih suka menggerombol. Fenomena penggerombolan sudah terlihat sejak kami tingkat 2. Saya tidak suka penggerombolan (biasanya terdiri atas 2 sampai 4 orang), atau mungkin saya hanya iri saja ya? entahlah. Fenomena duduk bergerombol dengan orang yang itu-itu saja pernah saya wacanakan denga teman, dan kami sepakat bahwa dudduk bergerombol adalah kata lain dari tidak mau dekat dengan teman selain gerombolannya.. wallahu'alam.
Posted in
kampus
|